Rabu, 21 Februari 2017 - 13:00:00 WITA
Faloak Bahan Baku Obat Herbal yang Tidak Beracun
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Konservasi - Dibaca: 445 kali

Kupang (17/2/2017)_Berdasarkan hasil temuan dari Tim Peneliti Balai Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang, kandungan ekstrak etanol kulit batang faloak tidak beracun dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pengobatan herbal.

Untuk memastikan hal tersebut, Tim Peneliti BP2LHK Kupang telah melakukan uji toksisitas yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Nusa Cendana (UNDANA) dan telah mendapatkan Kelayakan Etik Hewan (Animal Athics Approval) dari Komisi Etik Hewan Fakultas Kedokteran Hewan UNDANA.

Sedangkan hewan coba yang digunakan adalah tikus galur wistar, sesuai dengan ketentuan PerKBPOM Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pedoman Uji Toksisitas Non klinik Secara In Vivo.

"Tikus-tikus tersebut dicekoki ekstrak etanol kulit batang faloak dengan dosis yang berbeda-beda, yaitu: 40 mg/KgBB, 200 mg/kgBB, 1.000 mg/kgBB dan tertingi 5.000 mg/KgBB,"kata Siswadi, Peneliti BP2LHK Kupang yang sekaligus menjadi ketua tim penelitian. Siswadi menyatakan bahwa dosis tertinggi yang digunakan adalah 5.000 mg/kgBB. Menurutnya hal ini berdasarkan PerKBPOM Nomor 7 Tahun 2014 yang menyatakan apabila pada dosis 5.000 mg/KgBB tidak menimbulkan kematian maka tidak perlu dilanjutkan dengan penggunaan dosis yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, Siswadi menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan nilai Lethal Dose 50 (LD50) yang dapat menjadi indikasi tingkat ketoksikan suatu bahan saat dikonsumsi.

Selain dari nilai LD50, toksisitas ekstrak kulit batang faloak juga dapat dilihat dari perubahan kadar Serum Glutamic Pyruvix Transaminase (SGPT) dan Serum Glutamic Oxaloacetic Transmisae (SGOT) dalam darah hewan coba.

"SGPT adalah enzyme yang dihasilkan di organ hati yang nilainya akan berubah apabila terdapat senyawa beracun yang masuk ke dalam hati,"kata Siswadi.

Berdasarkan hasil percobaan terlihat bahwa SGPT dalam darah hewan coba mengalami peningkatan dari rerata 42, 8 menjadi 59,7 dan sebaliknya SGOT mengalami penurunan secara signifikan dari 129 menjadi 100,3.

"Hasil pengamatan yang dilakukan selama percobaan, tidak ditemukan adanya hewan coba yang mati baik pada dosis rendah ataupun penerapan dosis tertinggi,"tegas Siswadi.(/p>

Berdasarkan hal tersebut, Siswadi menyatakan bahwa faloak merupakan bahan baku obat herbal yang aman dan tidak beracun.

Disadari bahwa Sterculia quadrifida atau masyarakat Pulau Timor menyebutnya faloak merupakan salah satu species Sterculia yang berkhasiat obat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tumbuhan tersebut dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti: gangguan fungsi hati, reumatik, anemia serta pemulih stamina, dan pembersih darah pasca melahirkan. Proses ekstraksi Faloak masih tergolong tradisional, yaitu dengan cara perebusan kulit batangnya. Namun, kadar toksisitas Faloak masih belum diketahui. ****pinusa